Darurat Asap Kembali Menghantui: Menyorot Kembali Krisis Kebakaran Hutan
dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatra
Isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi
sorotan besar publik nasional maupun internasional seiring meningkatnya titik
panas di berbagai wilayah strategis Indonesia.
Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatra kini berada di
garis depan bencana tahunan yang tidak hanya mengancam ekosistem alam, tetapi
juga keselamatan jutaan jiwa penduduk setempat.
Fenomena perubahan iklim global yang memicu musim
kemarau lebih panjang memperparah kerentanan lahan gambut di kedua wilayah
tersebut terhadap ancaman api.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Badan
Nasional Penanggulangan Bencana mencatat lonjakan signifikan pada jumlah titik
panas dalam beberapa pekan terakhir.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, kabupaten seperti Pulang
Pisau, Kapuas, dan Kotawaringin Timur kembali melaporkan eskalasi kebakaran
lahan gambut yang sulit dikendalikan.
Karakteristik tanah gambut yang menyimpan cadangan
karbon di bawah permukaan tanah membuat api dapat menjalar secara tersembunyi
dan membara dalam waktu yang lama.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi satuan tugas
darat yang harus berjibaku memadamkan api hingga ke akar-akarnya agar tidak
kembali berkobar.
Sementara itu, di Pulau Sumatra, wilayah Provinsi Riau,
Jambi, dan Sumatra Selatan juga mengalami tekanan serupa akibat pembukaan lahan
yang tidak terkendali.
Kabut asap tipis mulai terlihat menyelimuti kawasan
pemukiman warga di beberapa kota besar, memicu kekhawatiran akan terulangnya
tragedi asap parah pada tahun-tahun sebelumnya.
Dampak langsung yang paling dirasakan oleh masyarakat
akibat karhutla ini adalah merosotnya kualitas udara secara drastis hingga
kategori berbahaya.
Ribuan warga, terutama anak-anak dan lansia, dilaporkan
mulai menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan partikel
debu mikro dari asap kebakaran.
Pemerintah daerah di Kalimantan Tengah dan Sumatra pun
terpaksa mengeluarkan imbauan resmi bagi masyarakat untuk mengenakan masker
saat beraktivitas di luar ruangan.
Sejumlah sekolah di daerah terdampak parah bahkan
sempat memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh guna melindungi kesehatan
para siswa dari polusi udara.
Selain masalah kesehatan, sektor transportasi darat,
laut, dan udara turut lumpuh akibat jarak pandang yang terbatas di pagi hari.
Beberapa penerbangan domestik di bandara-bandara
regional terpaksa mengalami penundaan atau pembatalan demi menghindari risiko
kecelakaan akibat kabut asap tebal.
Dari aspek lingkungan, karhutla di Kalimantan Tengah
dan Sumatra menyumbangkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar yang
mempercepat pemanasan global.
Habitats satwa liar yang dilindungi, seperti orangutan
di Kalimantan dan harimau Sumatra, ikut terancam kehilangan tempat tinggal
akibat amukan si jago merah.
Menghadapi situasi darurat ini, pemerintah pusat
menegaskan komitmennya untuk mengerahkan seluruh sumber daya melalui operasi
modifikasi cuaca dan patroli udara secara intensif.
Penegakan hukum yang tegas terhadap oknum korporasi
maupun perorangan yang sengaja membakar lahan juga terus digalakkan tanpa
pandang bulu demi memberikan efek jera.
Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, aparat
penegak hukum, masyarakat adat, dan relawan kini menjadi kunci utama dalam
menanggulangi krisis karhutla secara berkelanjutan.
Bagaimana menurut Anda langkah paling efektif yang harus diambil pemerintah dalam menangani akar permasalahan karhutla di lahan gambut ini?

Sampaikan pendapat Anda secara santun dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.